Current Issue

Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Pesantren

Pesantren dari masa ke masa selalu menempatkan diri pada pusat dinamika keumatan. Segara genuine, pesatren sebagaimana dijelaskan Zamakhsyari Dhofir (1983) dalam “Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Kyai”, merupakan lembaga pendidikan yang berbasis pada kajian keislaman klasik. Menurutnya, kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok, yaitu: (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) dan Balaghah”. Hal senada disampaikan Martin van Bruinessen dalam “Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia)” bahwa munculnya pesantren adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu. Dalam perkembangannya, pesantren, menggunakan istilah Bourddieu menjadi sebuah habitus sosial yang menghubungkan proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama, sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri umat Islam. Sebagai habitus, pesantren mempunyai sistem nilai yang terwariskan dari generasi ke generasi di antaranya kebersahajaan, pelestarian tradisi, budaya keilmuan, dan nasionalisme. Bahkan Clifford Geertz menyebut kekuatan agama yang menggerakkan pesantren sebagai a cultural system. Sebagai sistem kebudayaan, kekuatan agama dalam pesantren berfungsi untuk membentuk perasaan dan motivasi yang kuat dan kemampuan bertahan dalam diri manusia serta memberikan karakter terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kualitas dari pengalamannya. Pada gilirannya, Geertz berdasarkan hasil penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan. Santri sebagai sebutan bagi masyarakat pesantren memiliki perasaan dan motivasi yang kuat dalam mempengaruhi sistem budaya dan politik. Pesantren sebagai habitus memungkinkan tumbuh subur berbagai sistem nilai dalam kehidupan pesantren dari yang adaptif dengan lingkungan sampai kepada yang kontraproduktif dengan lingkungan. 

Published: 2019-09-16
View All Issues