Current Issue

Vol 4 No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Pesantren

Pada abad ke-6, Rasulullah SAW sudah menegaskan kekuatan Islam terletak pada akhlak yang mulia. Para filusuf muslim seperti Ibnu Maskawih, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Farabi, dan lainnya menegaskan pendidikan akhlak dan religiusitas sebagai rumusan karakter utama seorang manusia. Pondok pesantren sebagai pewaris risalah kenabian dan filusuf Islam masih menjadikan akhlak mulia sebagai pilar utama dalam proses pendidikan pondok pesantren. Dalam konteks dunia Barat, Thomas Lickona pada tahun 1990-an menulis sebuah karya yang berjudul “The Return of Character Education”. Karya ini memberikan kesadaran di dunia pendidikan secara umum tentang konsep Pendidikan Karakter sebagai konsep yang harus digunakan dalam
kehidupan ini dan saat itulah awal kebangkitan pendidikan karakter menjadi lebih dikembangkan oleh banyak orang di dunia Barat. John Dewey misalnya, sebagaimana dikutip oleh Frank G. Goble pada tahun 1916, pernah berkata, “sudah merupakan hal lumrah dalam teori pendidikan bahwa pembentukan watak merupakan tujuan umum pengajaran dan pendidikan budi pekerti di sekolah”. Jurnal Ilmiah Pesantren pada edisi ini menempatkan kajian pendidikan karakter sebagai pembuka tulisan. Tulisan Ari Kurniawati tentang “Pendidikan Karakter Dengan Pendekatan Berbasis Agama Dan Budaya Bangsa”, berusaha membuktikan bahwa karakter dibangun melalui pendekatan yang menggabungkan antara pendekatan agama dan budaya. Pendekatan ini dengan jelas dijabarkan dalam tujuan pendidikan nasional di dalam Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional. Hal ini menunjukkan pendidikan nasional berbasis kepada konsep ketuhanan yang maha esa dan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat. 

Published: 2018-07-12
View All Issues