• Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 4 No 1 (2018)

    Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid menyebutkan bahwa pesantren mengandung makna keislaman sekaligus keaslian (indigenous) Indonesia. Sebagai sebuah pendidikan indigenous di Indonesia pesantren terus melakukan adaptasi dengan perkembangan zaman yang terkenal dengan prinsip “memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik”. Prinsip ini yang mendidik pesantren untuk tidak pernah berhenti dalam membenahi manajemen pesantren, baik manajemen organisasi maupun manajemen pembelajaran. Pesantren pada awal berdiri abad ke-15 dan menjamur pada abad ke-17 di tanah Jawa berbasis pada figur kyai dalam bentuk sorogan dan bandongan, belum dijumpai sistem klasikal. Dalam perkembangannya, ketika Hindia Balanda memperkenalkan model klasikal dalam pendidikan di Nusantara, pesantren merespon dengan munculnya model klasikal di Muallimin Yogyakarta, Darul Ulum Jombang, dan Mambaul Ulum Surakarta. Budaya adaptif sistem pengelolaan pesantren juga merambah di bidang keilmuan. Tradisi pendidikan pesantren awal menunjukkan bahwa keilmuan pesantren hanya terbatas kepada bidang fikih, akhlak, akidah, al-Qur’an, dan hadis. Perkembangan mutakhir pesantren, ada gerakan keilmuan yang sangat dinamis. Pesantren memasukkan ilmu-ilmu eksakta, ilmu-ilmu sosial, Bimbingan Konseling dan bahkan program Cambridge dalam kurikulum pesantren. Perkembangan ini menjadi sangat menarik karena pesantren tetap berpegang kepada induk keilmuan yang bersumber dari Al-Qur’an As-Sunnah

  • Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 3 No 2 Juli (2017)

    Kata Pengantar
    Pendidikan pesantren pada awal berdirinya lebih berbasis pada pendidikan masjid dan pendidikan kyai yang berbasis kitab kuning. Ketuntatasan pembelajaran didasarkan pada ketuntasan kitab kuning daripada ketuntasan berdasarkan kelas. Dari segi metodologi pembelajaran, Karel A. Steenbrink dalam Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern memberikan gambaran tentang kondisi pesantren yang lebih menitikberatkan pada pembelajaran keagamaan dengan metode hafalan yang dominan.

    Dalam perkembangannya, pendidikan pesantren mengalami pergeseran dari kegiatan mengaji menjadi kegiatan berbasis madrasah dengan pendekatan klasikal dalam pembelajarannya. Munculnya madrasah menurut para sejarawan pendidikan sebagai salah satu bentuk pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Alasannya adalah secara historis awal kemunculan madrasah dapat dilihat pada dua situasi; adanya pembaruan Islam di Indonesia dan adanya respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia Belanda. Diawali oleh Syekh Amrullah Ahmad (1907) di Padang mendirikan Madrasah, KH. Ahmad Dahlan (1912) di Yogyakarta, KH Wahab Hasbullah
    bersama KH Mansyur (1914) dan KH. Hasym asy’ari yang pada tahun 1919 mendirikan Madrasah Salafiyah di Tebuireng Jombang.

  • Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 3 No 1 Januari (2017)

    Kata Pengantar
    Pendidikan pesantren sesuai dengan karakteristiknya yang “modern” selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karakter modernisasi pesantren berpijak kepada tiga prinsip perkembangan pesantren yang selaras dengan perkembangan zaman. Pertama, al-muhafadatu ala al-qadim as-saleh, yaitu kemampuan untuk memegangi nilai-nilai tradisi yang masih relevan. Prinsip ini menunjukkan bahwa pijakan modernisasi pesantren di atas prinsip-prinsip tradisi pesantren. Kedua, wa al akhdu bil jadid al-aslah, yaitu mengambil hasil penemuan kontemporer yang dapat memberikan nilai tambah bagi pesantren. Prinsip mengajarkan transparansi pesantren dan kemauan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Ketua,wa al akhdu bil jadid al-ijad, yaitu mengambil nilai-nilai baru sebagai hasil dari eksperimentasi pesantren. Prinsip ini secara ambisius dilakukan pesantren untuk menemukan secara generik apa yang dibutuhkan pesantren dalam rangka mensetarakan paradigma pesantren dengan dunia luar.

  • jurnal ilmiah pesantren Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 2 No 2 Juli (2016)

    Masa depan peradaban Indonesia haruslah bertumpu pada peradaban yang berbudi luhur, yang tingkat keunggulannya diharapkan mampu bersaing dengan peradaban-peradaban dunia lainnya. Lembaga pesantren dengan visinya yang selalu berkembang menyesuaikan zamannya, dewasa ini mengalami berbagai perubahan fundamental yang sesungguhnya turut memainkan peranan penting dalam proses transformasi peradaban Indonesia modern. Salah satu kesimpulan Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya “Tradisi Pesantren ; Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia” tersebut di atas menggambarkan pesantren telah mengalami perubahan dari modelnya yang tradisional yang berbasis pada corak kekyaian menjadi lembaga modern yang menjadi titik temu antara khasanah tradisional dan khasanah modern.



  • Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 2 No 1 Januari (2016)

    Lembaga pendidikan pesantren bercirikan empat unsur penting, yaitu Kyai, Santri, Masjid, dan Asrama. Pada awal perkembangan pesantren, Kyai pesantren menjadi sosok sentral pesantren yang menjadi daya tarik bagi santri. Pesantren tidak mengundang santri ke pesantren, tetapi para santrilah yang datang untuk belajar menuntut ilmu kepada kyai tersebut. Sebagai sebuah konsekuensi dari berkumpulnya banyak orang maka muncullah asrama untuk ditempati para santri, dan masjid sebagai pusat pembelajaran santri. Model pembelajaran belum menggunakan sistem klassikal tetapi menggunakan model berhadap-hadapan antara Kyai dengan santri (Sorogan) atau model pemberian materi secara berjamaah tanpa mengenal tingkatan pendidikan.

  • Jurnal Ilmiah Pesantren
    Vol 1 No 1 Januari (2015)
1 - 6 of 6 items